Selasa, 04 Februari 2014

Detiknya rapuh

Beginikah rasanya terabaikan?
sakit.. sangat sakit. Lebih ketika mata tak ingin tertutup menyimpan rasa apa yang sesunggunhnya ingin kurahasiakan dari mereka
Kemudian dengan detik aku menjadi rapuh
Tik..

Sepedih inikah luka didalam hati?
nyeri saat luka tergores hingga dalam lebih menyakitkan dibanding luka itu tersiram dengan asamnya bening bening air
waktu kembali membuatku rapuh
Apakah aku hanya lampion yang tak berarti untuk mu?
apakah aku benalu dalam hidup mu?
apakah aku pijar pada lensa untukmu melihat dunia yang luas seakan penghalangnya?
apakah aku seburuk itu untukmu??
Katakanlah, sesungguhnya aku memang bukan orang yang kuat,
dan aku bukan mereka yang tegar dengan kenyataan pahit,
namun aku tetap manusia yang ingin kejujuran darimu, walaupun tak dapat ku telan karna rahangku terkatup sudah untuk menahan tangis.

Tik..
kembali, semakin merapuhiku..
amarahmu, semakin mengutukku menjadi debu
akan terbang dengan perlahan oleh hembusan nafas amarahmu

Apakah kau tak melihat sedikit saja rasa bersalahku?
apakah kau tak ingat bagaimana aku memperdulikanmu dulu?
ahh, aku tetap salah!
segalanya yang kulakukan ibarat sebutir debu untukmu,
sedangkan segala kekuranganku kau yang melengkapinya
J


Tapi, dapatkah kau memaafkanku? Sedetik tinggalkanlah aku selamanya aku akan mencoba tersenyum untukmu dengan bibirku.
karna mata pasti akan pilu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar